WR Soepratman, anak band pencipta lagu Indonesia Raya


Minggu malam, 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda II akan ditutup. Seorang pemuda ramping berkacamata bulat, mengenakan pakaian necis: jas serba putih, peci, dan sepatu putih mengkilap, bergegas maju ke muka. Dia mengapit sebuah biola, dan mulai memainkannya.

Ruangan di gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Batavia—kini gedung Museum Sumpah Pemuda, sekejap senyap. Gesekan biola pemuda tersebut yang memainkan instrumen lagu “Indonesia”—kemudan jadi “Indonesia Raya”—seakan menyihir mereka. 

Anak muda itu bernama Wage Rudolf Soepratman, seorang wartawan yang berbakat dalam bidang musik. Di kemudian hari, dia dikenal sebagai salah seorang komponis besar yang pernah dimiliki bangsa ini.

Pada 10 November 1928, teks lagu “Indonesia” dimuat di majalah Sin Po. Majalah ini merupakan media cetak pertama yang memuat teks utuh lagu “Indonesia”.

Menurut Benny G. Setiono dalam buku Tionghoa dalam Pusaran Politik, Soepratman memang bekerja sebagai reporter di Sin Po sejak 1925. Sin Po sendiri mencetak 5.000 eksemplar teks lagu itu, dan dihadiahkan kepada Soepratman untuk dijualnya. 

Tertarik dengan musik 

Pengamat musik Denny Sakrie dalam bukunya 100 Tahun Musik Indonesia menyebutkan, pada 1920-an musik jazz yang berasal dari Amerika Serikat tengah populer di Hindia Belanda. Namun, pada masa itu, jenis musik ini hanya bisa dinikmati kalangan orang Eropa, serta segelintir kaum bumiputra kalangan menengah ke atas.

Populernya musik jazz melahirkan sejumlah kelompok musik jazz di beberapa kota. Di Surabaya berdiri kelompok musik jazz White Dove, yang digawangi Martin Kreutz, Karel Lind, dan Jose Marpaung.

Pada 1937, menurut Denny, berdiri pula kelompok musik jazz Melody Makers, yang didukung gitaris Kacob Sigarlaki dan drummer Boetje Pesolima. Jazz pun mengalun hingga Makassar, Sulawesi Selatan. Di sana, Soepratman muda tinggal bersama kakaknya Roekijem Soepratijah dan kakak iparnya WM van Eldik.

Pada 1914, kapal van der Wijk bertolak dari Batavia ke Makassar. Di kapal itu, Soepratman, Roekijem, dan van Eldik mengarungi lautan. 

Di tengah perjalanan, Soepratman terkesima menyaksikan kakak iparnya van Eldik menggesek biola. Soepratman lantas jatuh cinta kepada musik. Hal tersebut dikisahkan St Sularto dalam artikelnya “Wage Rudolf Supratman Menunggu Pelurusan Fakta Sejarah” di majalah Prisma Nomor 5, Mei 1983.

Saat itu, Eldik dipindah tugaskan ke Makassar. Menurut Anthony C. Hutabarat dalam bukunya, Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Soepratman, kelihaian WR Soepratman menggesek biola karena bimbingan dari kakak iparnya van Eldik dan kakaknya Roekijem Soepratijah. Dalam waktu tiga tahun, dia sudah menguasai pengetahuan teori dan praktik bermain biola.

“Dia mampu membawakan lagu-lagu klasik ciptaan Chopin atau Beethoven dengan membaca not balok,” tulis Anthony dalam buku Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Soepratman

Black and White Jazz Band 

Melihat bakat adik iparnya, van Eldik pun mengajak Soepratman bergabung ke dalam kelompok musik yang dibentuknya pada 1920, Black and White Jazz Band. Kelompok musik ini terdiri dari enam orang, termasuk van Eldik dan Soepratman.

Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik Jilid 2 mengungkap, enam orang tadi memegang alat gesek (biola dan celo), satu gitar, satu banjo, satu juk (ukulele), dan satu drum.

Menurut Bambang Sularto dalam buku Wage Rudolf Soepratman, nama Black and White Jazz Band melambangkan kerja sama atau hubungan akrab antara yang bule dan sawo matang. Di dalam band ini, Soepratman memegang biola, sedangkan van Eldik memainkan celo.

Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik Jilid 1 menulis, band ini lebih pas disebut sebagai orkes kamber. Namun, karena ada tambahan instrumen gitar, banjo, dan drum, namanya disebut jazz band.

Menurut Bambang Sularto dalam buku Wage Rudolf Supratman, band ini digembleng terlebih dahulu oleh van Eldik. Dia memberikan pendidikan praktis, dan latihan intensif beberapa bulan. Terutama mengenai cara penyajian irama jazz yang bermutu. 

Setelah sangat siap, Black and White Jazz Band baru berani tampil di depan publik. Mereka lantas menggelar malam musik jazz di dalam kompleks Kees. Saat itulah Soepratman kali pertama muncul di depan publik sebagai pemain biola. Menurut Anthony, kompleks Kees merupakan sebuah kompleks militer Belanda yang terdapat tangsi, gudang perbekalan, rumah sakit, sekolah, dan perumahan tentara.

Kediaman van Eldik memang ada di kompleks ini. Kakak ipar Soepratman tersebut merupakan seorang seorang Indo-Belanda yang bekerja sebagai instruktur batalion XIX di Makassar, berpangkat sersan.

“Dalam waktu singkat, band ini sangat populer. Permintaan dari berbagai kalangan selalu dipenuhi van Eldik,” tulis Bambang Sularto dalam buku Wage Rudolf Supratman.

Bambang Sularto melanjutkan, band ini bermain di gedung balai kota, rumah-rumah para pejabat tinggi, dan di Societeit Makassar. Band ini pun mendapat acara tetap setiap malam Minggu di Societeit Makassar. Menurut Bambang, meski Black and White Jazz Band merupakan kelompok musik amatir, tapi ketenaran dan kualitas musik mereka belum ada tandingannya di Makassar. 

“Mereka menerima imbalan yang sangat besar,” tulis Bambang Sularto.

Penggesek biola yang tenar

Permainan biola Soepratman mengesankan. Gesekan biolanya sangat disukai para penyuka dansa-dansi. Seiring ketenaran Black and White Jazz Band, nama Soepratman pun kecipratan terkenal. 

“Banyak gadis menyebut-nyebut permainan biola meneer Soepratman sangat bagus. Penghasilan menjadi pemain biola cukup. Dia banyak kencan dengan gadis-gadis Indo, dan hidup bersenang-senang,” tulis St Sularto dalam Prisma, Mei 1983.

Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik Jilid 2 menulis, bersama kelompok musiknya, Soepratman dihargai orang-orang Belanda sebagai konco dalam hiburan.

Selain nge-band, Soepratman pun bekerja. Awalnya, seperti yang dikutip dari tulisan St Sularto dalam Prisma edisi Mei 1983, dia menjadi guru bantu, usai menamatkan Normaal School—sekarang setingkat Sekolah Pendidik Guru—di Makassar. Dia berhenti sebagai guru, saat akan dipindah tugas ke Singkang.

Dia kemudian pindah kerja menjadi juru tulis di kantor dagang Firma Nedem. Tak lama, dia pindah lagi ke kantor advokat Schulten. 

Bekerja di sini, Soepratman betah. Schulten merupakan pendukung gerakan National Indische Partij, partai politik perdana di Hindia Belanda yang dibentuk tiga serangkai, yakni E.F.E Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Ki Hadjar Dewantara pada 1912. Schulten pun gemar membaca koran Sin Po.

Pada 1924, Soepratman mulai meninggalkan kehidupan foya-foya. Dia mulai tertarik melahap segala informasi mengenai politik. Dia pun mulai menggebu-gebu untuk menciptakan lagu kebangsaan dan perjuangan.

Black and White Jazz Band bubar pada 1924. Anggotanya berpencar, sibuk masing-masing. Termasuk Soepratman yang punya rencana menyeberang lautan ke Jawa, berkumpul dengan orang-orang pergerakan.

Tak lupa, biola pemberian Eldik dia bawa. Kapal laut membawanya merantau ke Bandung, kemudian Batavia. Lantas menjalani profesi baru sebagai jurnalis dan pencipta lagu.

Namanya kemudian abadi setelah berhasil menciptakan lagu kebangsaan negara merdeka yang diimpikannya. Ironis, dia tak bisa mendengarkan lagu ciptaannya berkumandang usai pembacaan proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Soepratman wafat di Surabaya dalam usia 35 tahun, 17 Agustus 1938 tengah malam. Dia meninggal dunia keadaan sakit-sakitan, papa, dan nihil cinta.        




SUMBER : DISINI http://bit.ly/2YIDV0j