KH Hasyim Asy'ari, Sang Ulama Pemikir dan Pejuang .


KH Hasyim Asy'ari, Sang Ulama Pemikir dan Pejuang

Tokoh ulama pemikir dan pejuang, yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, KH Hasyim Asy’ari, tercatat lahir pada 4 Robiulawwal 1292 H /10 April 1875, di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra pasangan Kyai Asy’ari dan Nyai Halimah. Kyai Asy’ari putera Kyai Usman yang pindah ke Keras, mendirikan dan mengasuh Pesantren Keras yang terletak di selatan Jombang. KH Hasyim Asy’ari sendiri merupakan anak ketiga dari 11 orang bersaudara. Dari garis keturunan ibu maupun ayahnya, KH Hasyim Asy’ari memiliki garis genealogi dari Sultan Pajang yang terhubung dengan Maharaja Majapahit Brawijaya V.

Belajar Sebagai Santri Kelana

Sejak kecil KH Hasyim Asy’ari diasuh dan dididik oleh ayah dan ibunya serta kakeknya, Kyai Usman, pengasuh pesantren Gedang di selatan Jombang, dengan nilai-nilai dasar Tradisi Islam yang kokoh. Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan KH Hasyim Asy’ari sudah tampak. Dalam usia 13 tahun, beliau sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar dari dirinya.

Dalam usia 15 tahun, sekitar tahun 1309 H/1891 M, Muhammad Hasyim mengawali belajar ke pondok- pondok pesantren yang masyhur di Jawa Timur. Karena kecerdasannya, Kyai Hasyim tidak pernah lama belajar di satu pesantren, karena semua mata pelajaran telah tuntas dipelajari dalam waktu tidak sampai satu tahun. Begitulah, beliau belajar dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain sebagai Santri Kelana. Di antara Pondok Pesantren yang pernah disinggahi untuk diserap ilmunya adalah Pondok pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo, Trenggilis di Surabaya, dan Langitan di Tuban, dan ke Bangkalan di Madura, yang diasuh Kyai Muhammad Khalil bin Abdul Latif. Setelah menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren selama 5 tahun, akhirnya beliau belajar di pesantren Siwalan, Sono, Sidoarjo, di bawah bimbingan Kyai Ya’qub, yang dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Setelah menyerap ilmu selama setahun, dalam usia 21 tahun, Kyai Hasyim Asy’ari diambil menantu oleh Kyai Ya’qub dinikahkan dengan puterinya, Nyai Nafisah.

Tidak lama setelah menikah, Kyai Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, beliau kembali ke Tanah Air, setelah istri dan anaknya meninggal dunia. Bulan Syawal 1310 H/ Mei 1892 M, Kyai Hasyim Asy’ari menikah dengan Nyai Chadidjah. Setelah itu beliau berangkat ke Tanah Suci. Beliau menetap di Makkah selama 7 tahun dan berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi, Syaikh Mahfudh At- Tarmisi, Kyai Shaleh Darat Al-Samarani.

Penting untuk difahami, bahwa pada saat Kyai Hasyim belajar di Mekkah, Muhammad Abduh melancarkan gerakan reformasi pembaharuan pemikiran Islam. Sebagaimana telah dikupas oleh Deliar Noer, gagasan reformasi pembaharuan Islam yang dianjurkan oleh Abduh yang dilancarkan dari Mesir, telah menarik perhatian umat Islam dunia termasuk santri-santri Indonesia yang sedang belajar di Mekkah seperti Kyai Achmad Dahlan dan Kyai Hasyim Asy’ari. Gagasan reformasi pembaharuan Abduh itu, pertama-tama mengajak ummat Islam untuk memurnikan kembali Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari Islam. Kedua, reformasi pendidikan Islam di tingkat universitas. Ketiga, mengkaji dan merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan- kebutuhan kehidupan modern. Keempat, mempertahankan eksistensi Islam.

Usaha Muhammad Abduh merumuskan doktrin- doktrin Islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern pertama dimaksudkan agar supaya Islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih besar dalam lapangan sosial, politik dan pendidikan. Dengan alasan inilah Abduh melancarkan gagasan agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada pola pikiran para Imam Mazhab dan agar ummat Islam meninggalkan segala bentuk praktek sufisme di tarekat-tarekat. Syaikh Achmad Khatib mendukung beberapa pemikiran Abduh, walaupun ia berbeda dalam beberapa hal. Beberapa santri Syaikh Achmad Khatib ketika kembali ke Indonesia ada yang mengembangkan gagasan-gagasan Abduh itu, di antaranya adalah KH Achmad Dahlan, yang mendirikan organisasi Muhammadiyah tahun 1912. Sementara Kyai Hasyim yang sebenarnya menerima gagasan-gagasan Abduh untuk membangkitkan kembali semangat memurnikan Islam, tetapi menolak pemikiran Abduh agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mazhab.

Kyai Hasyim berkeyakinan bahwa tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari pendapat para ulama besar yang tergabung dalam sistem mazhab, yaitu ulama besar era Tabi’it Tabi’in yang dekat dengan masa hidup Sahabat dan Rasulullah Saw. Artinya, untuk menafsirkan Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku dari para ulama mazhab hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Sementara dalam hal tarekat, Kyai Hasyim tidak menganggap bahwa semua bentuk praktek keagamaan waktu itu salah dan bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya, ia berpesan agar ummat Islam berhati-hati bila memasuki kehidupan tarekat. Sebagai akibat dari pandangan yang berbeda, terjadi benturan pandangan antara golongan bermazhab yang diwakili kalangan ulama pesantren dengan golongan yang tidak bermazhab yang diwakili golongan modernis pembaharu seperti Muhammadiyah, PSII, Persis, Al-Irsyad.

Bulan Muharram 1317 H/ Juni l899 M, Kyai Hasyim Asy’ari kembali ke Tanah Air dan mengajar di Pesanten Gedang, milik kakeknya, Kyai Usman. Bulan Jumadilakhir 1317 H/ Oktober 1899, Kyai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng, yang letaknya sekitar 200 meter di sebelah barat Pabrik Gula Cukir, yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di Tebuireng beliau membangun sebuah bangunan tratak yang terbuat dari bambu sebagai tempat tinggal sekaligus tempat ibadah dan belajar santri. Saat itu santrinya hanya 8 orang tetapi tiga bulan kemudian menjadi 28 orang. Dalam waktu singkat Kyai Hasyim Asy’ari bukan saja dikenal sebagai kyai ternama, melainkan juga dikenal sebagai petani dan pedagang yang sukses karena memiliki tanah puluhan hektar. Dua hari dalam sepekan, Kyai Hasyim tidak mengajar karena mengurusi sawah-sawah dan kebunnya, bahkan terkadang pergi Surabaya untuk berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya. Saat ke Surabaya, Kyai Hasyim tidak hanya berdagang melainkan juga mengaji tashawwuf kepada Kyai Abdul Syakur yang mengajarkan kitab Al-Hikam lbnu Atho’illah As-Sukandari

Setelah dua tahun membangun Tebuireng, pada awal tahun 1319 H/ 1901 M, Kyai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Chadidjah, pada saat perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan. Kyai Hasyim kemudian menikah lagi dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan, Madiun. Dari pernikahan ini Kyai Hasyim dikaruniai 10 orang anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Choiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Cholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf. Pada akhir dasawarsa 1920an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kyai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kyai Hasan Muhyi, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Chotidjah, (4) Muhammad Ya’kub.

Kealiman Kyai Hasyim makin masyhur, terutama setelah Kyai Kholil, guru Kyai Hasyim sewaktu belajar di Bangkalan, Madura, mengikuti pengajian beliau dan menyatakan menjadi murid beliau. Ribuan santri pun menimba ilmu kepada Kyai Hasyim, di mana setelah lulus dari Tebuireng, tak sedikit di antara santri tersebut yang kemudian tampil sebagai ulama terkenal dan tokoh pejuang yang berpengaruh. Di antara tokoh tersebut adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH. R.As’ad Syamsul Arifin, KH Wahid Hasyim, KH Abbas Abdul Djamil, KH Usman Al-Ishaqi, KH Masykur, KH Achmad Siddiq, KH A.Muchit Muzadi, Brigjend TNl KH Abdul Manan Widjaja, Brigjend TNI KH Sulam Samsun, Kolonel TNI KH Iskandar Sulaiman, Mayor TNI KH Munasir Ali, dan lain-lain.Tak pelak lagi pada paruh awal abad ke-20 Tebuireng merupakan pesantren paling besar dan paling penting di Jawa, sampai Zamakhsyari Dhofier mencatat pesantren Tebuireng sebagai sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura.

Sebagai ulama yang alim, Kyai Hasyim Asy’ari menulis sejumlah kitab dan catatan-catatan, yang sebagian di antaranya adalah: Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama’ah: Fi Hadistil Mawta wa Asyrathis-sa'ah wa baya Mafhumis-Sunnah wal Bid’ah (Paradigma Ahlussunah wal Jama’ah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunnah dan Bid’ah); Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin (Cahaya yang Terang tentang Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad SAW); Adab al-alim wal Muta'allim fi maayahtaju Ilayh al-Muta'allim fi Ahwali Ta'alumihi wa maa Ta’limihi (Etika Pengajar dan Pelajar dalam Hal-hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pelajar Selama Belajar); Al-TIbyan: fin Nahyi 'an Muqota'atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan (Penjelasan tentang Larangan Memutus Tali Silaturrahmi, Tali Persaudaraan dan Tali Persahabatan); Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam'iyyat Nahdlatul Ulama (Mukadimah Anggaran Dasar Jam’iyah Nahdlatul Ulama); Risalah fi Ta'kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A'immah al-Arba'ah (Mengikuti manhaj para imam emopat - Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal); Mawaidz. (Saat Kongres NU XI tahun 1935 di Bandung, kitab ini diterbitkan secara massal. Prof Buya Hamka harus menterjemah kitab ini untuk diterbitkan di majalah Panji Masyarakat, edisi 15 Agustus 1959); Arba’ina Haditsan (Kitab ini berisi 40 hadits pilihan yang menjadi pedoman bagi warga NU); Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat (Kitab ini menyajikan beberapa hal yang harus diperhatikan saat memperingati Maulid al-rasul).

Karena pengaruhnya yang sangat kuat, Kyai Hasyim mendapat perhatian khusus dari pemerintah kolonial Belanda, yang berusaha merangkulnya. Namun dengan perlawanan pasif yang disebut “tasabuh”, Kyai Hasyim menolak usaha Belanda tersebut. Maksudnya, Kyai Hasyim tidak saja menolak program-program pemerintah kolonial seperti sekolah, melainkan mengharamkan pula pakaian Belanda seperti jas, dasi, celana, sepatu, topi vilt, bahkan uang gaji dari pemerintah kolonial pun dianggap haram.

Di Tengah Kebangkitan Nasionalisme

Dasawarsa awal abad ke-20 ditandai Kebangkitan Nasional yang menyebar ke mana-mana, sehingga muncul berbagai organisasi pendidikan, sosial, buruh, dan keagamaan seperti Boedi Oetomo, Taman Siswa, Sarekat Priyayi, Sarekat Dagang Islam, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Persis, Al- Irsyad, ISDV, di mana di kalangan pesantren muncul pula organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916 dan Taswirul Afkar tahun 1918. Setelah itu didirikan Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar), yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar, Maka Taswirul Afkar tampil sebagai kelompok studi serta lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Tokoh utama dibalik pendirian Tasfirul Afkar adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, yang juga murid Kyai Hasyim Asy’ari. Kelompok ini lahir sebagai bentuk kepedulian para ulama terhadap tantangan zaman di kala itu, baik tantangan dalam masalah keagamaan, pendidikan, sosial, maupun politik.

Awal dasawarsa kedua abad ke-20, Raja Saudi Arabia, Ibnu Saud, berencana menjadikan madzhab Wahabi sebagai madzhab resmi Negara dan berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang selama ini banyak diziarahi kaum Muslimin, karena dianggap musyrik dan bid’ah. Di Indonesia, rencana tersebut mendapat sambutan hangat kalangan Islam modernis seperti Muhammadiyah di bawah pimpinan KH Ahmad Dahlan maupun PSII di bawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto.

Pro dan kontra terkait kebijakan pemerintah Saudi Arabia memuncak pada Konggres Al Islam IV yang diselenggarakan di Bandung tahun 1925 sewaktu dicari masukan dari berbagai kelompok ummat Islam, untuk dibawa ke Konggres Ummat Islam di Mekkah. Karena aspirasi golongan pesantren tidak tertampung, golongan ini membentuk Komite Hijaz yang dipimpin KH Abdul Wahab Chasbullah, yang bertugas menyampaikan aspirasi kepada penguasa Saudi Arabia. Komite Hijaz sukses karena aspirasinya diterima baik oleh Ibnu Saud, yang membolehkan faham bermazhab tetap hidup di Saudi Arabia

Saat kembali dari Saudi Arabia akhir tahun 1344 H/ Desember 1925, Komite Hijaz tidak dibubarkan tetapi ditugasi membentuk organisasi keagamaan yang menampung ulama dan santri serta masyarakat berlatar pesantren. Sejarah mencatat, setelah direstui Kyai Hasyim Asy’ari, Komite Hijaz membentuk organisasi Nahdlatoel Oelama pada 31 Februari l926, yang bermakna Kebangkitan Ulama. Setelah NU berdiri posisi golongan pesantren tradisional semakin kuat, dimana pada tahun 1936 - dalam Muktamar NU di Banjarmasin - ditetapkan bahwa Organisasi Nahdlatoel Oelama’ ingin mewujudkan Negara Darussalam (Negara Damai). Dan pada tahun 1937 ketika ormas-ormas Islam membentuk badan federasi partai dan perhimpunan Islam Indonesia yang terkenal dengan sebutan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) Kyai Hasyim dan KH Wachid Hasyim diminta menjadi pimpinan.

KH. Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama yang disegani dan dihormati oleh umat Islam di luar organisasi NU, di mana beliau tidak hanya menduduki jabatan Rois Akbar NU, tetapi juga Rois Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI)), yang juga ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Di dalam organisasi MIAI dan Masyumi tertampung berbagai elemen dan organisasi umat Islam Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Perti, PSII, Al-Irsyad, dan lain-lain. Kedudukan beliau sebagai ketua Majelis Syuro menunjukkan betapa besar pengaruh beliau bagi umat Islam di Indonesia.

Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam, Jepang menggabungkan antara kebijakan represi dan kooptasi, sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim. Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Kyai Hasyim Asy’ari. Ini dilakukan karena Kyai Hasyim menolak melakukan seikerei, yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito titisan Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). Seikerei juga wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang. Kyai Hasyim menolak aturan tersebut. Sebab hanya Allah saja yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya, Kyai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah-pindah, mulai dari penjara Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan, Surabaya. Selama dalam tahanan, Kyai Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga tulang-tulang jari tangan kanannya patah tidak dapat digerakkan.

Tanggal 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan dipenjara, Kyai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes dari para Kyai dan santri, termasuk usaha yang dilakukan Kyai Wahid Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah melalui tokoh muslim Jepang, yang memohonkan pembebasan kepada Saiko Sikikan di Jakarta. Jepang yang sadar akan kekuatan Kyai Hasyim malah mengangkatnya menjadi Shumubu, kementerian urusan agama, yang diwakilkan kepada KH Wachid Hasyim, puteranya.

Ketika pemerintah pendudukan militer Jepang membentuk Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) pada Oktober 1943, yang sebagian perwira-perwiranya dijabat oleh kyai pesantren, Kyai Hasyim mengusulkan agar dibentuk satuan khusus milisi santri terlatih yang disebut Hisbullah. Permohonan Kyai Hasyim dipenuhi oleh pemerintah pendudukan militer Jepang dengan dibentuknya Lasykar Hisbullah pada November 1944. Kader-kader didikan PETA dan Hisbullah inilah yang mendominasi militer Indonesia sewaktu Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk 5 Oktober 1945.

Pelopor Perlawanan Umat Islam

Di tengah memanasnya kabar bakal mendaratnya pasukan Sekutu yang akan menangkap semua kolaborator Jepang seperti tokoh-tokoh gerakan Tiga A, Poetera, PETA, Heiho, Keibodan, Ir Soekarno mengirim utusan kepada Kyai Hasyim untuk meminta fatwa tentang bagaimana sikap warganegara dalam menghadapi musuh yang akan menjajah kembali karena kabar bahwa tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh pemerintah Belanda akan membonceng tentara Sekutu yang dipimpin Inggris, yang berusaha melakukan agresi ke Jawa (Surabaya) dengan alasan mengurus interniran dan tawanan Jepang. Permintaan fatwa Presiden Soekarno itu oleh Kyai Hasyim Asy’ari dijawab bersama para ulama NU se-Jawa dan Madura pada 22 Oktober 1945, dalam bentuk seruan Fatwa dan Resolusi Jihad melawan musuh, yang ditanda-tangani di kantor GP Ansor di Jl. Bubutan, Surabaya. Dalam seruan Fatwa dan Resolusi Jihad fii Sabilillah, Kyai Hasyim Asy'ari menetapkan hukum fardlu 'Ayn bagi umat Islam untuk membela tanah airnya yang diserang musuh dalam jarak 94 kilometer.

Tanggal 25 Oktober 1945, pasukan Sekutu dari Brigade 49 Mahratta yang dipimpin Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby mendarat di pelabuhan Ujung Surabaya, memasuki kota Surabaya dan membentuk pos-pos pertahanan kota tanggal 26 Oktober 1945. Rakyat Surabaya yang sejak tanggal 22 Oktober 1945 sudah dikobari semangat jihad pun marah. Tanggal 26 Oktober 1945 sore, pasukan Sekutu dikepung dan diserang beramai-ramai, yang dilanjut hingga tanggal 27 - 28 - 29 Oktober 1945, yang mengakibatkan tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby pada tanggal 30 Oktober 1945.

Letnan Jenderal Phillip Christison, atasan A.W.S. Mallaby marah dan mengultimatum rakyat Surabaya untuk menyerahkan Pembunuh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby sekaligus menyerahkan semua senjata illegal mereka kepada Sekutu, di mana ultimatum itu dilanjutkan oleh Mayor Jenderal E.R. Mansergh dengan tegas, di mana jika sampai tanggal 9 November 1945 sore hari ultimatum itu tidak dipatuhi, kota Surabaya akan dibombardir dari darat, laut dan udara pada tanggal 10 November 1945 jam 06.00 pagi.

Tanggal 9 November 1945 sore, Kyai Hasyim Asy’ari yang baru kembali dari Kongres Masyumi di Jogjakarta menjawab ultimatum Sekutu itu dengan fatwa bahwa Fardlu 'Ayn hukumnya bagi seluruh umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilometer dari kota Surabaya untuk membela Surabaya. Umat Islam yang mendengar Fatwa Jihad itu terbakar semangatnya. Mereka keluar dari kampung- kampung dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan pasukan Sekutut pimpinan Inggris yang diboncengi NICA. Meletuslah peristiwa bersejarah 10 Nopember 1945 saat rakyat Surabaya dan umat Islam dari berbagai pesantren dan desa-desa sekitar dengan heroik melakukan perlakukan perlawanan dengan senjata seadanya. Pertempuran sengit selama tiga minggu - dari 10 November hingga 2 Desember 1945 - itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Sekalipun sejak mundur dari Surabaya 2 Desember 1945 semangat tempur sebagian besar pejuang merosot dan Kyai Hasyim Asy’ari yang kembali ke Tebuireng, perlawanan secara gerilya terus beliau serukan kepada para santri yang berjuang di TKR, Laskar Hisbullah, Sabilillah di mana pun mereka berada. Itu sebab, saat tentara NICA menggantikan Inggris tahun 1946, pesantren Tebuireng sempat diserang dan dibakar karena dianggap sebagai sarang para gerilyawan. Sewaktu Belanda melakukan Agresi pertama tahun 1947, terjadi perlawanan sengit dari pejuang-pejuang Hisbullah dan Sabilillah yang sering bersifat sporadis tanpa kordinasi dengan TNI.

Fakta perlawanan sengit laskar santri-laskar santri yang dipimpin kyai di Laskar Sabilillah dan Hisbullah terlihat sewaktu satu battalion tentara NICA masuk Kota Malang melalui Kota Lawang dihadang oleh Laskar Sabilillah di Singosari. Akibat persenjataan yang tidak seimbang, pertahanan Laskar Sabilillah di Singosari jatuh dengan korban sangat banyak. Peristiwa jatuhnya pertahanan Laskar Sabilillah di Singosari itu dilaporkan kepada Kyai Hasyim Asy’ari, yang membuat beliau terkejut dan meninggal mendadak pada 7 Ramadhan 1366 H/ 25 Juli 1947. [Agus Sunyoto]

 



sumber  : disini http://bit.ly/2KvgrCT