Dilema SMP Pedalaman, Pendidikan Tertinggal tapi UN Diseragamkan


  

 Pendidikan di pedalaman Aceh Timur masih jauh tertinggal dibanding daerah lain. Kadang, satu guru mengajar untuk SMP dan SMA. Meski pendidikan jauh tertinggal, siswa-siswi kelas III harus mengikuti ujian nasional setara sekolah lain.

Di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, Aceh, berdiri dua sekolah swasta, yaitu SMP Merdeka dan SMA Merdeka. Letak sekolah satu kompleks. Guru yang mengajar di sana tidak berbeda. Tenaga pengajar yang rata-rata berstatus relawan ini boleh masuk ke kelas SMP ataupun SMA 

Setiap hari, guru yang hadir kadang empat orang, bahkan pernah cuma satu guru mengajar semua mata pelajaran. Para relawan yang mayoritas dari Kota Langsa ini mengajar di sana secara bergantian. Setelah bekal yang dibawa habis, mereka turun ke Langsa dan datang relawan lain ke sekolah.  

Meski sarana-prasarana dan pendidikan masih jauh tertinggal, setiap tahun siswa di sini diwajibkan mengikut UN layaknya sekolah lain. Untuk ikut UN, siswa SMP Merdeka menumpang ke sekolah-sekolah di Langsa.

Seorang siswa kelas III SMP Swasta Merdeka, Abdul Mutalib, mengaku sudah menggelar berbagai persiapan untuk mengikuti ujian nasional yang digelar pada April ini. Abdul masih dilema UN tahun ini berbasis komputer atau masih sama seperti tahun sebelumnya, yaitu berbasis tertulis.

"Sepertinya (UN) manual pakai kertas. Tapi kata bapak pakai komputer. Tahun-tahun kemarin nggak pakai komputer. Tapi kata bapak tahun ini harus pakai komputer," kata Abdul saat ditemui beberapa waktu lalu.

Jika UN berbasis komputer, itu menjadi tantangan tersendiri bagi Abdul. Pasalnya, selama ini dia belum pernah mengoperasikan komputer. Di sekolahnya juga tidak pernah diajarkan tentang komputer. Pasalnya, di sekolah ini juga masih minim listrik.

"Nggak bisa (kalau pakai komputer). Belum pernah pegang komputer," jelas Abdul. 

 Menurut Abdul, selama ini guru yang mengajar di sekolahnya masih sangat terbatas. Kadang, dua guru mengajar di tiga kelas. Para tenaga pengajar pun mengajarkan beragam mata pelajaran, dari ilmu pengetahuan alam (IPA) hingga ilmu pengetahuan sosial (IPS).

"Sesekali ada sendiri guru-gurunya yang ngajar semua kelas. Guru ngajarsemua mata pelajaran. Guru SMP dan SMA itu sama," ungkap Abdul.

Sekolah SMP dan SMA swasta di Tampur Paloh ini memang masih memprihatinkan. Baru beberapa bangunan yang terlihat baru dan dibangun Pertamina pada 2016. Para siswa ini belajar di tempat mirip pondok dan duduk lesehan. Tidak ada ruang belajar-mengajar seperti sekolah lain.

Saat ini, khusus untuk SMA baru ada dua kelas, yaitu kelas I dan kelas II. Sedangkan untuk SMP sudah ada beberapa angkatan yang tamat. Dulu, siswa yang tamat SMP melanjutkan SMA ke Kota Langsa ataupun Kabupaten Aceh Tamiang.  

"Kalau dibanding di luar sana, (sekolah) kami jauh tertinggal," ungkap Syahdan, siswa kelas II SMA Swasta Merdeka. 



SUMBER : DISINI http://bit.ly/2KR8Dgn