cerita susi pujiastuti , mengejar paket c,berpeluang ikut pilpres


Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti akhirnya mendapatkan Ijazah paket C jurusan IPS. Dia kini memenuhi syarat untuk menjadi cawapres. Akankah Susi maju di Pilpres 2019?

Susi mendaftar paket C di PKBM Bina Pandu Mandiri Ciamis pada tahun 2015. Saat itu kartu ujiannya sempat viral di medsos karena banyak yang tak mengira Susi masih mau mengejar pendidikan.

Seharusnya Susi bisa ikut ujian paket C pada 2017 lalu. Namun karena kesibukannya sebagai menteri, ujian ditunda. Susi saat itu harus melakukan kunjungan kerja ke luar negeri.
Setelah sempat tertunda, Susi akhirnya bisa mengikuti ujian susulan dari tanggal 11 sampai 13 Mei 2018. Susi mengikuti ujian menggunakan komputer atau UNBK di SMA Negeri 1 Pangandaran, Jawa Barat.

Ketua Yayasan Bina Pandu Mandiri Kabupaten Ciamis Didi Ruswendi pun menceritakan bagaimana Susi mengikuti ujian. Menurutnya Susi sangat taat dan disiplin terhadap peraturan, sama dengan peserta lain. Susi menurutnya bahkan sudah hadir 15 menit sebelum ujian dimulai.
Setelah ikut ujian susulan, saat pengumuman pada 7 Juni 2018, Susi dinyatakan lulus bersama 568 peserta Paket C se-Kabupaten Ciamis. Menteri Susi mendapat nilai 429 dari 7 mata pelajaran.

Ijazah paket C susi diserahkan langsung oleh Didi di rumah dinas Susi di Jakarta, Jumat (13/7/2018). Nilai yang diraih perempuan kelahiran Pangandaran, Jawa Barat, 15 Januari 1965 itu sangat memuaskan.

Menurut Didi, Susi mendapatkan nilai tertinggi untuk mata pelajaran PKN atau kewarganegaraan yakni 82. Sementara nilai mata pelajaran ekonomi Susi rendah, yakni 42,5. Meski Susi mahir bahasa Inggris, dia hanya mendapatkan nilai 76 untuk mata pelajaran ini. Namun seluruh nilai ini yang tertinggi dari para peserta lain. 


"Dilihat dari nilai yang ada, beliau bisa dikatakan sebagai rangking 1 di Kabupaten Ciamis, yang ikut kesetaraan," kata Didi saat dihubungi detikcom lewat telepon.
Didi pun merasa bangga dengan Susi. Meski sudah menjadi menteri dengan gelar doktor honoris causa, Susi tetap menempuh pendidikan sampai lulus kesetaraan SMA. Susi sebelumnya sempat menempuh pendidikan di SMAN 1 Yogyakarta, namun dia tidak lulus.

"Kami tentu sangat bangga. Ini sebagai contoh yang baik, pendidikan tidak ada batas usia. Beliau betul-betul menjadi contoh, sekalipun menteri tetapi ikut prosedur yang ada," ucapnya. 

Berbekal ijazah itu, Susi kini memenuhi syarat untuk menjadi cawapres. Syarat capres dan cawapres diatur dalam UUD 1945. Setelah itu, diatur lebih tegas dalam Pasal 169 UU 7/2017.

"Berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas, madrasah aliyah, sekolah menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, atau sekolah lain yang sederajat," demikian bunyi Pasal 169 huruf r.

Pihak PDIP sendiri telah mengucapkan selamat kepada Susi. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan PDIP akan mengirimkan karangan bunga. Dia pribadi menilai Susi sebagai tokoh bangsa yang luar biasa.

"Ya karena beliau tokoh yang luar biasa prestasi Bu Susi itu pendidikan, apalagi setelah naik SMA," kata Hasto. 

Saat kelulusan Susi dikaitkan dengan bursa cawapres 2019, Hasto menjawab diplomatis. Menurutnya, cawapres harus memiliki kesamaan dengan capresnya.

"Ya pemimpin untuk rakyat semuanya dicari dan yang paling penting chemistry-nya satu kesatuan karena wapres bukan sekadar ban serep. Wapres membantu presiden dalam membantu ruang lingkup sendiri. Pemimpin pengakuan bagi rakyat karena kerja dan dedikasi bagi bangsa dan negara," jelasnya.

Nama Susi sebelumnya memang ramai dibahas karena masuk bursa cawapres Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019. Menteri yang dikenal atas aksinya meledakkan kapal asing pencuri ikan ini dianggap ideal menjadi cawapres Jokowi versi survei LSI Denny JA. Namanya di urutan kedua, setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani.
sendiri telah bertanya langsung ke Jokowi soal sosok cawapres idealnya. Dia mengaku tak masalah jika cawapresnya perempuan. Menurut dia, semua peluang kombinasi pasangan capres dan cawapres saat ini bisa saja terjadi.

"Misalnya kombinasi Jawa dan luar Jawa, sipil dengan militer, nasionalis-religius, juga laki-laki-perempuan. "(Cawapres perempuan) ya, kenapa tidak," kata Jokowi dalam sesi wawancara khusus dengan detikcom di Istana Merdeka, Rabu (11/7).

Bagi Jokowi, sosok cawapres yang penting mau bekerja keras untuk kepentingan negara. Ditanya lebih jauh soal siapa pilihan cawapresnya, dia masih menutup rapat-rapat.
Menurut Jokowi, nama itu sudah ada di kantong dan akan diumumkan pada waktu yang tepat.

"Nanti ditunggu tanggalnya saja, yang sabar. Yang jelas nama sudah di kantong saya," kata Jokowi.                                                             


sumber  : disini  http://bit.ly/2Rulvt2