7 KESENIAN TRADISIONAL SUNDA


Merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. istilah “Tarawangsa” memiliki arti sebagai alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi.

Awal mula Tarawangsa bermula pada saat Rancakalong berada dibawah pemerintahan Mataram. Saat itu desa tersebut ditimpa malapetaka, yakni hilangnya butiran padi (Dewi Sri) dari dalam kulitnya. Semua padi yang ditanam tidak menghasilkan bulir padi atau tidak berbiji/hapa (dalam istilah Sunda). Kejadian tersebut diyakini masyarakat terjadi karena mereka sudah melupakan tata tertib memuliakan padi (Dewi Sri). Sehingga akhirnya terjadi kelaparan serta datang berbagai penyakit yang diderita masyarakat.

Embah Jatikusumah menyaksikan masyarakat menderita kelaparan, bahkan tak sedikit yang meninggal dunia. Beliau dan beberapa tokoh dari masyarakat lalu memutuskan untuk mencari bibit padi ke Mataram. Karena dikabarkan bahwasanya di Mataram banyak bibit padi. Sesampainya di Mataram, mereka mendapat kendala karena bibit padi dijaga ketat dan tidak boleh dibawa keluar dari Kerajaan Mataram dan selalu diincar oleh begal (perampok). Maka untuk membawa bibit padi itu Embah Jatikusumah menciptakan dua buah alat musik yang mempunyai fungsi sebagai alat untuk membawa benih padi. Caranya dengan memasukannya kedalam lubang resonator yang terdapat pada bagian belakang alat musik tersebut. Alat musik tersebut diberi nama Jentreng dan Tarawangsa (Ngek-Ngek).

1.DEGUNG 

Degung berasal dari kata ngadeg (Berdiri) dan Agung (megah) atau pengagung (Para raja, bangsawan) yang berarti kesenian ini di gunakan untuk mengagungkan martabat raja atau bangsawan pada jamannya. Degung di ciptakan oleh H.J Oosting sejak 1879. Kesenian degung ini digunakan sebagai musik pengiring atau pengantar, kesenian ini tetap eksis hingga saat ini karena peminat dari pencinta seni sunda.

Kesenian ini pun juga dapat dikolaborasikan dengan musik dangdut, jaipong, mengiringi sinden dan lain sebagainya.

2.TARI JAIPONG 

Merupakan gabungan dari berbagai seni, seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain sebagainya. Tari Jaipong ini di ciptakan oleh H. Suanda pada tahun 1967 di karawang. Tarian ini sangat pesat perkembangannya, musiknya juga di iringi oleh degung, ketuk, rebab, gendang, kecrek, sinden dan goong. Pakaian yang digunakan para penari pun sangat tradisional sunda yang terdiri dari sampur, apok dan sinjang.

Tarian ini mulai populer sejak 1970-an, berawal dari kemunculan tarian karya Gugum Gumbira yang di sebut dengan Ketuk Tilu, karena memang pada dasarnya tari jaipong itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Tarian itu kemudian populer dengan sebutan Jaipongan. Tarian ini sering di pentaskan dalam acara pesta pernikahan dan lain sebagainya.

3.SISINGAAN ATAU ODONG-ODONG

Merupakan kesenian khas daerah Subang, Jawa Barat. Nama Sisingaan diambil dari alat utama kesenian ini, yaitu “Sisingaan” suatu benda yang dibentuk menyerupai seekor singa. jadi dalam kesenian ini alat utamanya bukan seekor singa sungguhan melainkan singa tiruan yang terbuat dari kayu. Kesenian ini mulai muncul pada saat kaum penjajah menguasai Subang, yaitu pada masa pemerintahan Belanda tahun 1812.

Kesenian ini juga merupakan lambang perlawanan masyarakat terhadap VOC, yang terdiri dari 8 orang pengusung sisingaan, 2 sisingaan, penunggang sisingaan, pengiring musik dan sinden. Menurut sejarahnya, 8 orang pengusung ini melambangkan rakyat pribumi yang terjajah dan tertindas, sedangkan sepasang singa melambangkan Belanda dan Inggris (VOC) yang menjajah indonesia. Sedangkan penunggang sisingaan yang biasanya anak-anak melambangkan generasi muda yang nantinya harus bisa menungganggi dan mengusir para penjajah dari negara Indonessia. Biasanya Kesenian ini di pentaskan dalam acara hajatan khitanan dan acara yang bertemakan kebudayaan.

4.WAYANG GOLEK 

Kata wayang berasal dari bahasa Jawa krama ngoko yang berarti perwajahan. di sebut wayang golek karena berbentuk seperti Golek (Boneka), jika kita telusuri titik dimana dan kapan wayang golek lahir, hampir tidak akan kita temui suatu paparan yang utuh. Tetapi setelah di telusuri dari berbagai sumber referensi yang di dapat, wayang golek lahir dari perkembangan wayang kulit yang sudah lebih dahulu lahir. Sekitar tahun 1583, Sunan Kudus yang merupakan penyebar agama Islam di Pulau Jawa pernah membuat kurang lebih 70 buah wayang dari kayu. Jika itu benar, maka hal itu merupakan awal dari sejarah kelahiran wayang, sehingga dapat dipastikan bahwa bentuk wayang pada saat itu sangat berbeda dengan bentuk wayang saat ini. Dimana pada saat itu bentuk wayang belum di kasih warna-warni hanya warna kayu saja.

Wayang juga sering digunakan sebagai media dakwah. Biasanya ketika pementasan, sang dalang menyisipkan pesan moral termasuk pesan-pesan mengenai agama. Alur cerita wayang bersifat mendidik, kritik dan diselingi dengan humor.

5. KUDA RENGGONG 

Merupakan pertunjukan rakyat yang berasal dari Sumedang. Kesenian ini mulai muncul pada tahun 1910, yang menampilkan atraksi kuda yang telah dilatih untuk suatu pertunjukan. Kuda yang telah dilatih akan menari mengikuti irama musik yang dilantunkan terutama kendang. Nama Kuda Renggong diambil dari kata ronggeng yang dalam bahasa sunda berarti “Keterampilan”, sehingga kuda renggong dapat diartikan sebagai “Keterampilan berkuda”. Kesenian ini biasanya dipentaskan dalam arak-arakan khitanan.

Asal-usul kuda renggong ini dari pangeran Aria Suriatmaja, yang memerintah Kabupaten Sumedang selama 37 tahun (1882-1919). Pada saat itu ia sedang berusaha untuk memajukan bidang peternakan. Beliau sengaja mendatangkan bibit-bibit kuda unggul dari Pulau Sumba dan Sumbawa. Selain digunakan untuk alat transportasi, kuda juga sering di fungsikan sebagai pacuan kuda dan alat hiburan.

Sekitar tahun 1880-an, seorang anak laki-laki bernama Sipan yang tinggal di Dusun Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Sumedang, mempunyai kebiasaan mengamati tingkah laku kuda miliknya. Dari pengamatannya kuda itu dapat dilatih untuk mengikuti gerakan-gerakan yang diinginkan oleh manusia. Cara yang digunakan untuk melatih kuda agar mau melakukan gerakan tersebut adalah dengan cara memegang tali kendali kuda dan mencambuknya dari belakang agar kuda itu mengikuti irama musik yang didengarnya. Latihan dilakukan sangat rutin sehingga kuda menjadi terbiasa dan setiap mendengar musik pengiring, ia akan menari dengan sendirinya.

Melihat keberhasilan Sipan dalam melatih kuda miliknya membuat Pangeran Aria Surya Atmadja tertarik dan memerintahkan untuk melatih kudanya yang didatangkan langsung dari Pulau Sumbawa. Dari melatih kuda milik Pangeran Aria Surya Atmadja inilah akhirnya Sipan dikenal sebagai pencipta Kesenain Kuda Renggon.

6.TARAWANGSA (JENTRENG TARAWANGSA)


Merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. istilah “Tarawangsa” memiliki arti sebagai alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi.

Awal mula Tarawangsa bermula pada saat Rancakalong berada dibawah pemerintahan Mataram. Saat itu desa tersebut ditimpa malapetaka, yakni hilangnya butiran padi (Dewi Sri) dari dalam kulitnya. Semua padi yang ditanam tidak menghasilkan bulir padi atau tidak berbiji/hapa (dalam istilah Sunda). Kejadian tersebut diyakini masyarakat terjadi karena mereka sudah melupakan tata tertib memuliakan padi (Dewi Sri). Sehingga akhirnya terjadi kelaparan serta datang berbagai penyakit yang diderita masyarakat.

Embah Jatikusumah menyaksikan masyarakat menderita kelaparan, bahkan tak sedikit yang meninggal dunia. Beliau dan beberapa tokoh dari masyarakat lalu memutuskan untuk mencari bibit padi ke Mataram. Karena dikabarkan bahwasanya di Mataram banyak bibit padi. Sesampainya di Mataram, mereka mendapat kendala karena bibit padi dijaga ketat dan tidak boleh dibawa keluar dari Kerajaan Mataram dan selalu diincar oleh begal (perampok). Maka untuk membawa bibit padi itu Embah Jatikusumah menciptakan dua buah alat musik yang mempunyai fungsi sebagai alat untuk membawa benih padi. Caranya dengan memasukannya kedalam lubang resonator yang terdapat pada bagian belakang alat musik tersebut. Alat musik tersebut diberi nama Jentreng dan Tarawangsa (Ngek-Ngek).

Dan siapa sangka, ternyata Embah Jatikusumah berhasil membawa bibit padi keluar dari Kerajaan Mataram. Mulai saat itulah kesenian tarawangsa hidup dan berkembang di Rancakalong. Pada awalnya, kesenian tersebut hanyalah bersifat instrumental namun kemudian masyarakat Rancakalong menjadikan kesenian itu sebagai kehormatan kepada Dewi Sri. Sehingga tidak hanya unsur instrument saja, tetapi juga ada unsur upacara dan unsur tari. Kesenian ini dipergelarkan di saung (rumah kecil untuk istirahat di sawah) sebagai upacara kehormatan pada Dewi Sri.

 7. LENGSER 

Menurut keterangan para pendiri tokoh Lengser di Kampung Parugpug yaitu Bapak Kalsip, Lengser diciptakan pada tahun 1935. Lengser merupakan salah satu kesenian Sunda yang masih lestari hingga saat ini dan memiliki fungsi sebagai upacara mapag pengantin (sambutan pengantin). Kesenian ini tidak hanya ada dalam pesta pernikahan saja, namun juga bisa ditampilkan dalam menyambut kedatangan para pejabat atau tamu negara.

Ki Lengser memiliki ciri khas khusus yaitu baju kampret yang berwarna hitam serta di dandani menjadi sosok manusia yang sudah sangat tua, biasanya dia akan ditemani oleh seseorang yang berperan sebagai “Ambu” istri Ki Lengser. Mereka pun akan menari dengan tarian Sunda yang dibawakan dengan jenaka, sehingga akan mengundang tawa para penonton. (CS/PHP)

  

 

sumber : disini http://bit.ly/2ZiCDFu